Pembuat film Timor-Leste, Lurdes Pires: “Di zaman sekarang, tak seorang pun boleh hidup di bawah kendali kekuasaan kolonial”.

Produser ‘Beatrice’s War’, film layar lebar pertama Timor-Leste, percaya pada kekuatan cerita untuk menyembuhkan luka masyarakat

Wawancara jurnalis El País Alejandra Agudo dengan Lurdes Pires

Alejandra Agudo – Auserd, kamp pengungsi Sahrawi di Tindouf (Aljazair) – 08 

Sebagai seorang pencerita yang baik, Lurdes Pires (65 tahun, Timor-Leste) menggambarkan berbagai episode penting dalam hidupnya tanpa melewatkan satu pun detail. Aktivis, penerjemah dan pembuat film ini, yang terinspirasi oleh suasana tenang di kamp-kamp pengungsian Sahrawi, di mana ia menjadi tamu di festival film internasional FiSahara pada bulan April dan Mei lalu, mengisahkan invasi Indonesia ke negaranya setelah merdeka pada tahun 1975 dari penjajahan Portugis selama 500 tahun. Pires, yang saat itu adalah seorang aktivis remaja dan pejuang pemuda Front Revolusioner Timor-Leste Merdeka (Fretelin), harus mengasingkan diri bersama sebagian besar keluarganya di Darwin, Australia, untuk bertahan hidup.

Bertelanjang kaki, berkeringat, dan duduk di lantai sebuah rumah di kamp Auserd, di tengah padang pasir Aljazair, perempuan Timor-Leste ini mengenali dirinya sendiri dalam kisah para pengungsi Sahrawi yang melarikan diri ke negeri asing, juga pada tahun 1975, ketika Maroko mengambil alih Sahara Barat, yang hingga saat itu merupakan sebuah provinsi di wilayah Spanyol. “Jika bukan karena kenyataan bahwa ketika saya keluar, pemandangannya benar-benar berbeda, saya bisa bilang bahwa saya sedang berada di rumah”.

Tidak seperti tuan rumahnya di Aljazair, ia bisa menggunakan hak pilihnya dalam referendum kemerdekaan pada tahun 1999 dan pulang ke tanah airnya. Namun, mimpi yang terwujud tentang Timor yang merdeka tidak menghapus mimpi buruk penindasan, dan juga tidak menyembuhkan luka-luka akibat perkosaan, eksekusi, serta penganiayaan. Dia menemukan jalan menuju penyembuhan dalam keadilan dan perfilman. Agar tidak lupa, dan agar trauma para korban pun terlihat. Maka ia memproduksi film panjang pertama di negaranya pada tahun 2013, berjudul Beatriz’s War, yang disutradarai oleh Luigi Acquisto dan Bety Reis.

Pertanyaan: Bagaimana para aktivis membuat Indonesia setuju untuk menggelar pemungutan suara?

Jawaban: Banyak orang melarikan diri ke pegunungan dan melanjutkan perlawanan, tapi sebagian besar pemimpin gerilya terbunuh, terjadi bencana kelaparan. Jadi, gerakan perlawanan harus mengubah strategi dan membawa perjuangan ke kota-kota, bahkan ke luar negeri. Dan kami menciptakan sebuah gerakan aktivis. Kami menelepon media dari bilik-bilik umum agar tidak ketahuan, kami menghubungi para mahasiswa, kami menempelkan poster-poster di bandara dengan menempelkan lem di lipstik… Dan perubahan mulai terjadi di Indonesia, anak-anak muda mulai memperjuangkan reformasi. Suatu hari B.J Habibie mulai berkuasa, dia bukan seorang militer dan dia harus melakukan sesuatu yang baik. Dan itu adalah berdiri suatu hari dan mengatakan bahwa dia setuju untuk menggelar referendum di Timor.

Pertanyaan: Bagaimana Anda mengenang referendum tahun 1999 itu?

Jawaban: Saya pulang diam-diam untuk mengajari orang-orang cara mencoblos. Teman-teman saya, saudara perempuan saya dan saya berkeliling ke berbagai wilayah di Timor-Leste saat itu untuk menjelaskan, terutama kepada perempuan buta huruf yang tidak bisa membaca atau menulis, bagaimana cara mencoblos demi kemerdekaan. Kami semua memberikan suara. Orang-orang seperti saya, para aktivis di Australia, berpikir bahwa negara ini membutuhkan kami dan kami pergi untuk memberikan suara. Tidak ada pilihan untuk tidak memilih. Dan beberapa hari kemudian, kami dievakuasi. Milisi Indonesia membunuh banyak orang, terutama para aktivis, dan saya pun menghadapi risiko pembunuhan.

Pertanyaan: Bagaimana Anda menerima berita tentang hasil referendum itu?

Jawaban: Saya sangat senang dan sedih pada saat yang sama. Beberapa kawan saya yang perempuan dibunuh, diperkosa atau disiksa. Tetapi ada juga yang dibebaskan dari penjara, setelah mereka ditahan bertahun-tahun.

Pertanyaan: Dan Anda memutuskan untuk kembali lagi.

Jawaban: Saya kembali bersama pasukan penjaga perdamaian asal Australia. Semuanya hancur. Bau busuk, ada banyak mayat tak dikenal, berminggu-minggu setelah pemungutan suara. Dan selalu ada perempuan yang menangis di dekat mayat-mayat itu. Ada banyak pengungsi di kompleks Perserikatan Bangsa-Bangsa, mereka mengalami trauma, dan saya bekerja di sana sebagai penerjemah. Kemudian saya bergabung dengan tim yang akan menyelidiki kejahatan tersebut untuk membawa para pelaku ke pengadilan internasional. Saya ingat saat itu saya melihat banyak foto mayat dan mendengar kesaksian bagaimana dan mengapa mereka dibunuh. Para perempuan menceritakan kisah-kisah pemerkosaan dan pelecehan.

Pertanyaan: Bagaimana Anda bisa terjun ke dunia perfilman?

Jawaban: Pada tahun 2000, saya bekerja sebagai fixer [produser atau pemandu] untuk para jurnalis demi penghasilan tambahan, dan Abracadabra Films sedang mencari seorang juru bahasa. Mereka saat itu sedang mengambil gambar untuk film East Timor: Birth of a Nation; di mana salah satu ceritanya adalah tentang seorang perempuan perdesaan dan bagaimana dia menghadapi kehidupannya bersama anak-anaknya di sana, satunya lagi tentang salah satu perempuan petinggi di partai saya… Itu adalah cerita saya, cerita rakyat saya, cerita desa saya. Kami saat itu tidak punya aktor. Jadi kami harus melatih mereka. Dan saya menyadari bahwa saya perlu menghadirkan kisah-kisah perempuan yang mewakili seluruh negeri.

Pertanyaan: Apakah menurut Anda ini membantu menyembuhkan luka?

Jawaban: Ya, banyak orang Timor-Leste tidak tahu bahwa tetangga mereka mengalami kesulitan yang sama. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di desa tetangga. Dan mereka mulai melihatnya, membicarakannya. Para perempuan yang menonton film Beatrice’s War mulai menceritakan bagaimana mereka diperkosa dan disiksa. Bersama-sama, kami membangun kembali bangsa ini. Kami kembali menggunakan bahasa kami.

Pertanyaan: Anda bilang bahwa Anda mengalami stres pascatrauma, apakah Anda merasa sudah pulih?

Jawaban: Saya belum sepenuhnya pulih, tetapi film ini telah membantu saya dalam arti bahwa saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika kejadian buruk menimpa, saya tahu bahwa orang lain juga punya kisah serupa dan Anda bisa membagikannya. Anda tidak lupa, tetapi Anda pulih, Anda menceritakan kisahnya dan kemudian Anda melanjutkan hidup.

Pertanyaan: Timor sangat subur dan kamp-kamp pengungsian Sahrawi di Tindouf dikelilingi oleh gurun pasir. Namun demikian, Anda bilang bahwa Anda merasa seperti di rumah sendiri.

Jawaban: Rakyat di kedua negeri ini dikhianati. Bagi kami, hal yang bisa dilakukan untuk mengubah sistem adalah bekerja sama dengan negara-negara lain dan dengan kalangan pemuda Indonesia. Tujuan saya di sini adalah untuk membuat kisah mereka dikenal di luar negeri dan terhubung. Saya punya sebuah keluarga baru sekarang dan saya memiliki kenalan untuk berusaha mengubah situasi para perempuan itu.

Pertanyaan: Apakah Anda yakin bahwa konflik Sahara Barat hanya akan terselesaikan jika perempuan dan generasi muda Maroko dilibatkan?

Jawaban: Tentu saja. Jika Anda meyakinkan orang lain, persepsi mereka akan berbeda. Dan untuk itu, seluruh dunia harus terlibat, tidak boleh lupa. Itulah peran kita.

Pertanyaan: Maksud Anda para pembuat film?

Tanggapan: Kita semua adalah politisi, kita semua adalah aktivis. Kita semua harus tahu bagaimana caranya menceritakan kisah-kisah itu, dan mendidik anak-anak, teman-teman… Dan mereka akan melakukannya dengan orang lain. Begitulah cara mengubah berbagai hal.

Pertanyaan: Apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?

Jawaban: Saya bekerja di bidang penerjemahan untuk membayar keperluan ini dan itu. Kadang-kadang saya pergi ke Timor sebagai juru bahasa. Tapi saya punya hobi membuat film. Saat ini saya sedang mengerjakan film berjudul Clandestina, sebuah kisah fiksi tentang perlawanan seorang perempuan yang menjalankan sistem komunikasi radio dari pengasingan.

Pertanyaan: Apa yang kira-kira Anda akan ceritakan dalam sebuah film tentang para pengungsi Sahrawi?

Jawaban: Saya hanya berpikir bahwa [para pembuat film yang datang ke FiSahara] dapat menceritakan pengalaman kita di sini. Tapi saya pikir perempuan perlu menceritakan kisah mereka sendiri. Saya tidak bisa melakukannya, tapi saya ingin membantu mereka agar membagikan kisah itu dan menunjukkannya di luar.

Pertanyaan: Apakah itu alasan mengapa film menjadi penting?

Jawaban: Ya, sangat penting karena [rakyat] dapat melihat diri mereka sendiri. Di zaman sekarang, tak seorang pun boleh hidup di bawah kendali kekuasaan kolonial; tak seorang pun boleh dibunuh karena mereka ingin mendambakan sebuah negara sendiri dan hidup bebas.

Keterangan foto: Pembuat film Lurdes Pires, mengunjungi kamp-kamp pengungsi Sahrawi di Tindouf sebagai tamu festival film FiSahara. Fotografer: ÓSCAR CORRAL

Anda bisa mengikuti Planeta Futuro di X, Facebook, Instagram dan TikTok dan mendaftar di sini untuk mendapatkan ‘newsletter’ kami.

Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Fransiskus Pascaries seizin redaksi El País melalui Alejandra Agudo.

Sumber tulisan: https://elpais.com/planeta-futuro/2024-07-08/lurdes-pires-cineasta-timorense-en-la-epoca-actual-nadie-deberia-vivir-bajo-el-control-de-potencias-coloniales.html

Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Up ↑